Jumat, 17 April 2015

Lilir

Seperti decur
berlarian di lapang hatimu
ada yang sesak
ada yang ingin tumpah, sebentar lagi...

kakimu gontai, manusia
cita-cita limbung seketika
kau tak biasa dengan hidup beriak
kau kalah
Tumpas!

Doamu tak sampai
dosamu mencerkau
kau bahagia
tawamu lumrah dengan cinta yang pura-pura

Menangis kau, cengeng!
kau harapkan iba: ampuni aku, aku mengaku salah.
Jadilah kau kutu--kutu doa!

Mungkin ini kerama, katamu
padahal kau sudah lama memihak agama

Imanmu lindap tak lama
tawamu berubah tangis: konon neraka dekorasi bersusah-susah, menantimu dengan pesta yang meriah

Entah apa yang pantas memalut najismu yang sulur: lihatlah bumban di kepalamu,
otakmu yang kotor dibebatnya, sebaik-baik riasanmu!

Kau adalah penyesalan: kau sudah tahu tapi tak kau lakukan, kini mulutmu membura sesal!

Sampu datang
bebanmu menambun
kau redam
menghitam perlahan
leleh, tapi tak seperti sebuah lilin: kau habis bukan untuk jadi penerang.





-Karawang, 18 April 2015-






Tidak ada komentar:

Posting Komentar