Aku mengenangmu malam ini,
dengan puisi.
Medan, Oktober 2013
Minggu, 15 Desember 2013
Suara Musim Kemarau
Kreetaaakkkkkkkkkk...
jutaan hati berpatahan, menunggu hujan.
Medan, Oktober 2013
jutaan hati berpatahan, menunggu hujan.
Medan, Oktober 2013
Esok...
adalah misteri
kata orang yang malu-malu menunjukkan cintanya pada dunia
adalah kesepian
yang dihadirkan kesepian sebelumnya
untuk menghadirkan kesepian selanjutnya
adalah seakan hadiah
bagi kita yang merasa sudah mengalahkan hari ini
adalah selalu menjadi penyesalan terbesar dalam hidup
bila kau habiskan mengenang yang lalu
adalah gerimis yang dihempaskan angin senja
tapi tak seorang penyair pun mampu menuliskan getirnya
adalah kepastian
bagi mereka yang percaya keabadian Tuhan
adalah kematian
bagi ribuan nafsu yang kita kalahkan dalam arena pertempuran iman
adalah tangis yang berjalan diam-diam di balik lebar senyummu
menuju kehancurannya!
adalah tepuk tangan pentas semesta
karena semalam kita berhasil menjalankan peran
dan esok
adalah alasan terbesarku menulis malam ini:
hingga pada pagi hari
sebelum kau sempat berserah pada Ilahi
kau sudah tahkluk dalam pelukan puisi.
Medan, Oktober 2013
kata orang yang malu-malu menunjukkan cintanya pada dunia
adalah kesepian
yang dihadirkan kesepian sebelumnya
untuk menghadirkan kesepian selanjutnya
adalah seakan hadiah
bagi kita yang merasa sudah mengalahkan hari ini
adalah selalu menjadi penyesalan terbesar dalam hidup
bila kau habiskan mengenang yang lalu
adalah gerimis yang dihempaskan angin senja
tapi tak seorang penyair pun mampu menuliskan getirnya
adalah kepastian
bagi mereka yang percaya keabadian Tuhan
adalah kematian
bagi ribuan nafsu yang kita kalahkan dalam arena pertempuran iman
adalah tangis yang berjalan diam-diam di balik lebar senyummu
menuju kehancurannya!
adalah tepuk tangan pentas semesta
karena semalam kita berhasil menjalankan peran
dan esok
adalah alasan terbesarku menulis malam ini:
hingga pada pagi hari
sebelum kau sempat berserah pada Ilahi
kau sudah tahkluk dalam pelukan puisi.
Medan, Oktober 2013
Bianglala
adalah dewi yang tertawa; mustahil hujan melihatnya...
Bianglala adalah
sejarah.
Medan, Oktober 2013
Bianglala adalah
sejarah.
Medan, Oktober 2013
Sabtu, 16 November 2013
Dimana?
Tuhan
Kau dimana?
Medan, Oktober 2013
Lalu dijawab: di tiap air mata saat kau bersusah payah.
Medan, Oktober 2013
Lalu Tuhan menghukumku dengan cara ini
Berlaksa pertimbangan lahir diiring ciar hujan
Sepagi ini ada penyair kesepian: jatuh cinta ternyata tak semudah yang kubayangkan...
Medan, Oktober 2013
Sepagi ini ada penyair kesepian: jatuh cinta ternyata tak semudah yang kubayangkan...
Medan, Oktober 2013
Cita-cita
ibu bertanya pada anaknya
Sudah besar mau jadi apa?
"Tak penting jadi apa, yang penting namaku ada di wikipedia"
Medan, Oktober 2013
Sudah besar mau jadi apa?
"Tak penting jadi apa, yang penting namaku ada di wikipedia"
Medan, Oktober 2013
Jumat, 15 Maret 2013
(Bukan) Ambalela
Pasang
wajah minta suara
memelas
pun hampir saja
lakon
saudara ditebarkan
terhipnotis,
ya kami terhipnotis
Di
tengah perjalanan
kami
tersadar
benar-benar
sadar
sadar
bentuk dan kawananmu sebenarnya
Memang
kalian kepala
tapi
kepala yang tak ada otaknya
agen
kehancuran
produk
hedonisme semata
Muak
rakyat
kau lakonkan bak pewayangan
uang,
cuma itu visimu ke depan
sadis
rumah
kumuh ditimpa kaki istana megahmu
Pantaskah
kau dipanggil pemimpin?
Pemimpin
memang memimpin
pandu
rakyat ke lorong gelap
gelap
sampai
kaki kami tersandung
lelah
berdarah
Dimana
hati kalian?
Ibu
pertiwi tak pernah tertawa
tersenyum
pun tidak pernah
Ini
rakyat, rakyat yang menggugat!
Turunlah,
turun dari takhta mu hai pengecut!
Kami
membencimu, kami membencimu!
-Juli
2012-
Bintang Menunggu Bersinar
Roh
kehidupan segala mahkluk berlabuh
warna
cerahnya hampir butakanmu
kaki-kaki
konkuren bertaruh
napas
makian membumbung gerutu
cabar
hatimu jangan lama membumi mengganggu
Aku
memang mampu!
Sahabatku,
bersabar beradu
Ayunan
berlaku kendurkan harapan
pulaskan
butir
nadi
berdalam-dalam
Siapa
yang dulu stabil?
bak
petir
pisau
tajam dua sisi senyum
berkeringat
semangat yang muda
Bangun
melangkah
menggagah
henti
gaduki mimpimu basi
jalankan
mesin yang baru
di
darat kau takluk
hancurkan
bala tentara laut
Jangan
layas
sekarang
bergegas
roh
itu beringas
matanya
berbinar
kau
bintang menunggu bersinar
jangan
memudar kala kau berputar
cukup
sudah menggahar
belajarlah
bersabar
sadarlah
tak sedikit pun ada yang galat
saat
sesat
Berdiri
tegaklah sahabat!
-Juli
2012-
Kamis, 14 Maret 2013
Yang Tertunda
Dia,
kemurahan Tuhan
berdesakan
dengan duka
supaya
laraku yang lama digantikannya
rindu
meluruh di kedua pipinya
mimpiku
semalam
kubawa
dia bertemu mamaku
kuperkenalkan
Setiba
di perjamuan
mereka
menangkapku
pasal
penculikan disematkan
hatiku
disudutkan
nelangsanya
roman
tapi
ditengah pengadilan
kau
membelaku
kau katakan
pada mereka
cintaku
bagaikan pulau-pulau
nusantara
yang berenteng-renteng
muncul
bagai serbuk purnama
di
wajah
hai
bunga-bunga di surga
Terkadang
aku ragu kala kau merindukanku
bisa
saja kau rindukan dia
dia,
atau bahkan dia
Tapi
sampai kau memanggilku sayang
raguku
menguap
hilang
di bakar panasnya Jakarta
Hei
wanita, aku tahu kau masih simpan buku yang kuberikan dulu
buku
tentang tafsir mimpi itu
Bisakah
kau carikan arti mimpiku semalam?
-Agustus
2012-
Syair Diantara Katedral dan Istiqlal
Sore ini sunyi kembali
seperti
hujan
yang
tak diinginkan datangnya pada masa panen
Sunyi,
menyelinap dia
tidak
mengetuk
tumpukan
cinta yang kulipat rapi di bangku-bangku taman, memburuk
ternyata
dia tak menyalinnya
lupa
dia
Kujalani
lagu-lagu
nada-nada
minor dari biola
irama-irama
mamayati
jalur-jalur
dengan
bodohnya tiduri dosa
Dengan apa lagi aku ungkapkan rindu?
Kujalani
kota pluralis
diantara
istiqlal dan katedral
kata-kata
dan cinta
diaduk
dalam adonan duka
banyak
rindu untukmu wanita
Tak
mau aku siakan waktu
tak hanya
nikmati gemulai detik
aku
ingin bersetubuh dengannya
kutangkap
tangan sang waktu
menjala
cinta yang mulai berkelabat
kala
nafsuku mulai berbahaya
aku
menulislah
puisi
syair,
apapun itu
hanya
secercah
benua
tak cukup luas
bila
kubandingkan dengan rinduku yang mulai menua
Senja
kota tua
kalah
indah dengan senja biasanya
senja
itu indah
tapi
Jakarta mengusirnya
manusianya
hidup sendiri-sendiri saja
tak
terurus dan mulai kurus
kasihan
senja
hanya
aku yang peduli disana
sore
itu
kala
istiqlal membuka puasa
di
katedral ibadah minggu mereka
Berkeliling
dan bersedih
tertunduk
dan cengeng memelukku
Senja
tiada – pergi dia
aku menangis
Aku gila karena rindu!
Seandainya aku bisa menyelinap
di gambar-gambar yang membentuk mimpimu
itu
Malaikat
bosan temaniku berdoa untukmu
berdoa
di ujung senja
dimana
suka dan duka berciuman mesra
Karena
rindulah maka aku membenci waktu
waktu
tertawa kala aku menanti
senang
dia melihatku terseduh lirih
teriak
hatiku, sedari dulu
Aku
butuh dirimu!
-Agustus
2012-
-Kutuliskan kala sedih kudampingi
berkeliling kota, minggu sore di Jakarta, di bulan puasa-
Langganan:
Postingan (Atom)