Minggu, 15 Desember 2013

Ziarah

Aku mengenangmu malam ini,
dengan puisi.



Medan, Oktober 2013 

Suara Musim Kemarau

Kreetaaakkkkkkkkkk...

jutaan hati berpatahan, menunggu hujan.


Medan, Oktober 2013

Esok...

adalah misteri
kata orang yang malu-malu menunjukkan cintanya pada dunia

adalah kesepian
yang dihadirkan kesepian sebelumnya
untuk menghadirkan kesepian selanjutnya

adalah seakan hadiah
bagi kita yang merasa sudah mengalahkan hari ini

adalah selalu menjadi penyesalan terbesar dalam hidup
bila kau habiskan mengenang yang lalu

adalah gerimis yang dihempaskan angin senja
tapi tak seorang penyair pun mampu menuliskan getirnya

adalah kepastian
bagi mereka yang percaya keabadian Tuhan

adalah kematian
bagi ribuan nafsu yang kita kalahkan dalam arena pertempuran iman

adalah tangis yang berjalan diam-diam di balik lebar senyummu
menuju kehancurannya!

adalah tepuk tangan pentas semesta
karena semalam kita berhasil menjalankan peran

dan esok
adalah alasan terbesarku menulis malam ini:
hingga pada pagi hari
sebelum kau sempat berserah pada Ilahi
kau sudah tahkluk dalam pelukan puisi.



Medan, Oktober 2013

Bianglala

adalah dewi yang tertawa; mustahil hujan melihatnya...

Bianglala adalah
sejarah.



Medan, Oktober 2013

Sabtu, 16 November 2013

Sembahku oh Merkuri...

Kau angkatlah gelasmu sendiri!



Medan, Oktober 2013

Dimana?

Tuhan
Kau dimana?

Lalu dijawab: di tiap air mata saat kau bersusah payah.


Medan, Oktober 2013


Lalu Tuhan menghukumku dengan cara ini

Berlaksa pertimbangan lahir diiring ciar hujan
Sepagi ini ada penyair kesepian: jatuh cinta ternyata tak semudah yang kubayangkan...



Medan, Oktober 2013

Cita-cita

ibu bertanya pada anaknya
Sudah besar mau jadi apa?
"Tak penting jadi apa, yang penting namaku ada di wikipedia"



Medan, Oktober 2013

Jumat, 15 Maret 2013

(Bukan) Ambalela



Pasang wajah minta suara
memelas pun hampir saja
lakon saudara ditebarkan
terhipnotis, ya kami terhipnotis

Di tengah perjalanan
kami tersadar
benar-benar sadar
sadar bentuk dan kawananmu sebenarnya

Memang kalian kepala
tapi kepala yang tak ada otaknya
agen kehancuran
produk hedonisme semata

Muak
rakyat kau lakonkan bak pewayangan
uang, cuma itu visimu ke depan
sadis
rumah kumuh ditimpa kaki istana megahmu
Pantaskah kau dipanggil pemimpin?

Pemimpin memang memimpin
pandu rakyat ke lorong gelap
gelap
sampai kaki kami tersandung
lelah
berdarah
Dimana hati kalian?

Ibu pertiwi tak pernah tertawa
tersenyum pun tidak pernah
Ini rakyat, rakyat yang menggugat!
Turunlah, turun dari takhta mu hai pengecut!
Kami membencimu, kami membencimu!



-Juli 2012-


Bintang Menunggu Bersinar


Roh kehidupan segala mahkluk berlabuh
warna cerahnya hampir butakanmu
kaki-kaki konkuren bertaruh
napas makian membumbung gerutu
cabar hatimu jangan lama membumi mengganggu
Aku memang mampu!
Sahabatku, bersabar beradu

Ayunan berlaku kendurkan harapan
pulaskan butir
nadi berdalam-dalam
Siapa yang dulu stabil?
bak petir
pisau tajam dua sisi senyum
berkeringat semangat yang muda

Bangun melangkah
menggagah
henti gaduki mimpimu basi
jalankan mesin yang baru
di darat kau takluk
hancurkan bala tentara laut

Jangan layas
sekarang bergegas
roh itu beringas
matanya berbinar
kau bintang menunggu bersinar
jangan memudar kala kau berputar
cukup sudah menggahar
belajarlah bersabar
sadarlah tak sedikit pun ada yang galat
saat sesat
Berdiri tegaklah sahabat!                          



-Juli 2012-

Kamis, 14 Maret 2013

Yang Tertunda



Dia, kemurahan Tuhan
berdesakan dengan duka
supaya laraku yang lama digantikannya
rindu meluruh di kedua pipinya
mimpiku semalam
kubawa dia bertemu mamaku
kuperkenalkan

Setiba di perjamuan
mereka menangkapku
pasal penculikan disematkan
hatiku disudutkan
nelangsanya roman
tapi ditengah pengadilan
kau membelaku
kau katakan pada mereka
cintaku bagaikan pulau-pulau
nusantara yang berenteng-renteng
muncul bagai serbuk purnama
di wajah
hai bunga-bunga di surga

Terkadang aku ragu kala kau merindukanku
bisa saja kau rindukan dia
dia, atau bahkan dia

Tapi sampai kau memanggilku sayang
raguku menguap
hilang di bakar panasnya Jakarta

Hei wanita, aku tahu kau masih simpan buku yang kuberikan dulu
buku tentang tafsir mimpi itu
Bisakah kau carikan arti mimpiku semalam?



-Agustus 2012-

Syair Diantara Katedral dan Istiqlal


Sore ini sunyi kembali
seperti hujan
yang tak diinginkan datangnya pada masa panen

Sunyi, menyelinap dia
tidak mengetuk
tumpukan cinta yang kulipat rapi di bangku-bangku taman, memburuk
ternyata dia tak menyalinnya
lupa dia

Kujalani lagu-lagu
nada-nada minor dari biola
irama-irama
mamayati jalur-jalur
dengan bodohnya tiduri dosa

Dengan apa lagi aku ungkapkan rindu?

Kujalani kota pluralis
diantara istiqlal dan katedral
kata-kata dan cinta
diaduk dalam adonan duka
banyak rindu untukmu wanita

Tak mau aku siakan waktu
tak hanya nikmati gemulai detik
aku ingin bersetubuh dengannya
kutangkap tangan sang waktu
menjala cinta yang mulai berkelabat
kala nafsuku mulai berbahaya
aku menulislah
puisi
syair, apapun itu
hanya secercah
benua tak cukup luas
bila kubandingkan dengan rinduku yang mulai menua

Senja kota tua
kalah indah dengan senja biasanya
senja itu indah
tapi Jakarta mengusirnya
manusianya hidup sendiri-sendiri saja
tak terurus dan mulai kurus
kasihan senja
hanya aku yang peduli disana
sore itu
kala istiqlal membuka puasa
di katedral ibadah minggu mereka

Berkeliling dan bersedih
tertunduk dan cengeng memelukku
Senja tiada – pergi dia
aku menangis

Aku gila karena rindu!
Seandainya aku bisa menyelinap
di gambar-gambar yang membentuk mimpimu itu

Malaikat bosan temaniku berdoa untukmu
berdoa di ujung senja
dimana suka dan duka berciuman mesra

Karena rindulah  maka aku membenci waktu
waktu tertawa kala aku menanti
senang dia melihatku terseduh lirih
teriak hatiku, sedari dulu
Aku butuh dirimu!



-Agustus 2012-



-Kutuliskan kala sedih kudampingi berkeliling kota, minggu sore di Jakarta, di bulan puasa-