Semua sudah dituliskan
tinggal kesedihan
yang masih tenang menumpang di matamu, yang hampir mati
Tinggallah sebentar lagi
aku belum puas denganmu
pintamu pada kesedihan
di sore itu
waktu kau hampir hilang dari kehidupan
Menjelang gelap
matamu tutup
kau habis
namun kesedihan tak ikut mati
dia pindah ke mataku
yang semenjak pagi betah
menikmati kesedihan di matamu, kasih.
Pematangsiantar, September 2013
Kamis, 27 Maret 2014
Diceritakan Kembali oleh Layar Telepon Genggamku
aku melihatmu semalam
dengan senyum yang sama
masih merah seperti darah
tapi matamu tak sebening dulu
sedikit sembab dan mendung
kau dalam kesedihan sepertinya
kenapa?
kuharap itu bukan dia
kekasihmu yang sekarang, kepedihan
seandainya melupakan itu mudah
aku tak mungkin seperti sekarang :
masih mencintai segala kekuranganmu dengan berlebih-lebihan...
Pagi ini
aku menikmati senyummu lagi, senyum yang takkan mungkin aku lupa rasanya
dari layar telepon genggamku
yang hampir habis dayanya.
Medan, Oktober 2013
dengan senyum yang sama
masih merah seperti darah
tapi matamu tak sebening dulu
sedikit sembab dan mendung
kau dalam kesedihan sepertinya
kenapa?
kuharap itu bukan dia
kekasihmu yang sekarang, kepedihan
seandainya melupakan itu mudah
aku tak mungkin seperti sekarang :
masih mencintai segala kekuranganmu dengan berlebih-lebihan...
Pagi ini
aku menikmati senyummu lagi, senyum yang takkan mungkin aku lupa rasanya
dari layar telepon genggamku
yang hampir habis dayanya.
Medan, Oktober 2013
Akhirnya...
ya...
kita sadar
sekarang memang waktu yang tertunggu :
aku akan menarik langkahku, kau mendekat padanya, dia menjauh...
seharusnya
kita sudah merelakan :
aku merelakanmu, kau merelakannya
kita adalah manusia
yang takdirnya mau tak mau ditumpangi :
hidup adalah masing-masing, tapi cinta tidak.
Ini masalah!
semua hanya akan indah
bila kita saling melepaskan masa lalu, masa bodoh...
Pantasnya kita sebut apa
aku mencintaimu, kau mencintainya, dia mencintai kekasihnya?
ah cinta...
kadang hanya untuk ditertawakan saja.
Medan, Februari 2014
kita sadar
sekarang memang waktu yang tertunggu :
aku akan menarik langkahku, kau mendekat padanya, dia menjauh...
seharusnya
kita sudah merelakan :
aku merelakanmu, kau merelakannya
kita adalah manusia
yang takdirnya mau tak mau ditumpangi :
hidup adalah masing-masing, tapi cinta tidak.
Ini masalah!
semua hanya akan indah
bila kita saling melepaskan masa lalu, masa bodoh...
Pantasnya kita sebut apa
aku mencintaimu, kau mencintainya, dia mencintai kekasihnya?
ah cinta...
kadang hanya untuk ditertawakan saja.
Medan, Februari 2014
Rabu, 26 Maret 2014
Titik-titik
Kantuk, kulihat dipahat di matamu
kau berusaha melupakan
tapi sampai pada yang tak berdaya : cinta lama masih terindah...
Kau, jalanmu menanti menemukan cerita yang tak akan layu
setetes dan setetes
: Cinta baru akhirnya datang dan waktu muncul sebagai penyembuh!
Mengukir dunia yang langitnya lebih indah dari yang sudah-sudah
belajarlah dari duka
belajarlah dari airmata.
Medan, Januari 2013
kau berusaha melupakan
tapi sampai pada yang tak berdaya : cinta lama masih terindah...
Kau, jalanmu menanti menemukan cerita yang tak akan layu
setetes dan setetes
: Cinta baru akhirnya datang dan waktu muncul sebagai penyembuh!
Mengukir dunia yang langitnya lebih indah dari yang sudah-sudah
belajarlah dari duka
belajarlah dari airmata.
Medan, Januari 2013
Pukul Satu Siang di Hari Minggu
Dari tempat yang jauh
dengan ketidakpastianku
aku berdoa untuk semua kesedihan yang hinggap di telepon genggammu, siang ini
entah kau juga berbuat yang sama untukku, sekarang
entah kau masih mengingat aku.
-Dari tempat yang jauh, Minggu terakhir di bulan Februari-
dengan ketidakpastianku
aku berdoa untuk semua kesedihan yang hinggap di telepon genggammu, siang ini
entah kau juga berbuat yang sama untukku, sekarang
entah kau masih mengingat aku.
-Dari tempat yang jauh, Minggu terakhir di bulan Februari-
Atau
Bingungnya aku hari ini: kaukah yang menjadi doaku
atau doaku yang menjadi engkau?
Danau Toba, Januari 2014
atau doaku yang menjadi engkau?
Danau Toba, Januari 2014
Langganan:
Postingan (Atom)