Siapa Kau sebenarnya?
Dia sahabat terbaikku, seru pendosa itu.
Jakarta, 3 Mei 2014
Senin, 05 Mei 2014
Kamis, 27 Maret 2014
Habis
Semua sudah dituliskan
tinggal kesedihan
yang masih tenang menumpang di matamu, yang hampir mati
Tinggallah sebentar lagi
aku belum puas denganmu
pintamu pada kesedihan
di sore itu
waktu kau hampir hilang dari kehidupan
Menjelang gelap
matamu tutup
kau habis
namun kesedihan tak ikut mati
dia pindah ke mataku
yang semenjak pagi betah
menikmati kesedihan di matamu, kasih.
Pematangsiantar, September 2013
tinggal kesedihan
yang masih tenang menumpang di matamu, yang hampir mati
Tinggallah sebentar lagi
aku belum puas denganmu
pintamu pada kesedihan
di sore itu
waktu kau hampir hilang dari kehidupan
Menjelang gelap
matamu tutup
kau habis
namun kesedihan tak ikut mati
dia pindah ke mataku
yang semenjak pagi betah
menikmati kesedihan di matamu, kasih.
Pematangsiantar, September 2013
Diceritakan Kembali oleh Layar Telepon Genggamku
aku melihatmu semalam
dengan senyum yang sama
masih merah seperti darah
tapi matamu tak sebening dulu
sedikit sembab dan mendung
kau dalam kesedihan sepertinya
kenapa?
kuharap itu bukan dia
kekasihmu yang sekarang, kepedihan
seandainya melupakan itu mudah
aku tak mungkin seperti sekarang :
masih mencintai segala kekuranganmu dengan berlebih-lebihan...
Pagi ini
aku menikmati senyummu lagi, senyum yang takkan mungkin aku lupa rasanya
dari layar telepon genggamku
yang hampir habis dayanya.
Medan, Oktober 2013
dengan senyum yang sama
masih merah seperti darah
tapi matamu tak sebening dulu
sedikit sembab dan mendung
kau dalam kesedihan sepertinya
kenapa?
kuharap itu bukan dia
kekasihmu yang sekarang, kepedihan
seandainya melupakan itu mudah
aku tak mungkin seperti sekarang :
masih mencintai segala kekuranganmu dengan berlebih-lebihan...
Pagi ini
aku menikmati senyummu lagi, senyum yang takkan mungkin aku lupa rasanya
dari layar telepon genggamku
yang hampir habis dayanya.
Medan, Oktober 2013
Akhirnya...
ya...
kita sadar
sekarang memang waktu yang tertunggu :
aku akan menarik langkahku, kau mendekat padanya, dia menjauh...
seharusnya
kita sudah merelakan :
aku merelakanmu, kau merelakannya
kita adalah manusia
yang takdirnya mau tak mau ditumpangi :
hidup adalah masing-masing, tapi cinta tidak.
Ini masalah!
semua hanya akan indah
bila kita saling melepaskan masa lalu, masa bodoh...
Pantasnya kita sebut apa
aku mencintaimu, kau mencintainya, dia mencintai kekasihnya?
ah cinta...
kadang hanya untuk ditertawakan saja.
Medan, Februari 2014
kita sadar
sekarang memang waktu yang tertunggu :
aku akan menarik langkahku, kau mendekat padanya, dia menjauh...
seharusnya
kita sudah merelakan :
aku merelakanmu, kau merelakannya
kita adalah manusia
yang takdirnya mau tak mau ditumpangi :
hidup adalah masing-masing, tapi cinta tidak.
Ini masalah!
semua hanya akan indah
bila kita saling melepaskan masa lalu, masa bodoh...
Pantasnya kita sebut apa
aku mencintaimu, kau mencintainya, dia mencintai kekasihnya?
ah cinta...
kadang hanya untuk ditertawakan saja.
Medan, Februari 2014
Rabu, 26 Maret 2014
Titik-titik
Kantuk, kulihat dipahat di matamu
kau berusaha melupakan
tapi sampai pada yang tak berdaya : cinta lama masih terindah...
Kau, jalanmu menanti menemukan cerita yang tak akan layu
setetes dan setetes
: Cinta baru akhirnya datang dan waktu muncul sebagai penyembuh!
Mengukir dunia yang langitnya lebih indah dari yang sudah-sudah
belajarlah dari duka
belajarlah dari airmata.
Medan, Januari 2013
kau berusaha melupakan
tapi sampai pada yang tak berdaya : cinta lama masih terindah...
Kau, jalanmu menanti menemukan cerita yang tak akan layu
setetes dan setetes
: Cinta baru akhirnya datang dan waktu muncul sebagai penyembuh!
Mengukir dunia yang langitnya lebih indah dari yang sudah-sudah
belajarlah dari duka
belajarlah dari airmata.
Medan, Januari 2013
Pukul Satu Siang di Hari Minggu
Dari tempat yang jauh
dengan ketidakpastianku
aku berdoa untuk semua kesedihan yang hinggap di telepon genggammu, siang ini
entah kau juga berbuat yang sama untukku, sekarang
entah kau masih mengingat aku.
-Dari tempat yang jauh, Minggu terakhir di bulan Februari-
dengan ketidakpastianku
aku berdoa untuk semua kesedihan yang hinggap di telepon genggammu, siang ini
entah kau juga berbuat yang sama untukku, sekarang
entah kau masih mengingat aku.
-Dari tempat yang jauh, Minggu terakhir di bulan Februari-
Atau
Bingungnya aku hari ini: kaukah yang menjadi doaku
atau doaku yang menjadi engkau?
Danau Toba, Januari 2014
atau doaku yang menjadi engkau?
Danau Toba, Januari 2014
Minggu, 09 Februari 2014
Kamis, 06 Februari 2014
Senin, 06 Januari 2014
Ketika Puisi Sudah Tak Bisa Menghampiri
Ketika puisi sudah tak bisa
menghampiri
Kala
dinding hatimu meninggi, dan tak lagi mampu kudaki
Aku
menangis
Kau
tak menggubris
Getir
yang kukecup dari bibirmu
Biar
tangisku memaniskannya
Sekeras
apapun kau diam
Tak
lebih keras dari isakku kemarin yang menyentuh kesombongan awan: ada hujan
untukmu hari ini
Mengapa
tak kau singkapkan saja kelabu yang sangkut di pelipismu?
Agar
senyummu bisa kulihat
Agar
malam ini aku selamat dari kesepian
Kekasih
Jika
puisi tak lagi bisa menghampiri
Saat
itu mentari sudah tak hangat lagi.
Medan,
November 2013
Duka
Duka
hanya lembaran tipis antara suka dan airmata
Duka adalah suka yang tertunda
Tapi aku ragukan itu, duka adalah bagian dari nyawa
Setiap titik hidup hanya anak kecil dari duka yang berkeluarga, beranak cucu dia
Jumlahkan saja suka yang kau hadirkan kala di dunia
Kalah jumlah dibanding duka yang masih kau pelihara
di sudut-sudut meja, di sudut-sudut celana
ibu dan ayahmu adalah pemeras duka, setiap hari mereka mengetuk di pintunya
memaksa, duka pun mengangkat tangannya
diberikan bagian hidupnya, lahir lah kau di dunia
Kau yang setiap hari menikmati dunia - rumah duka - di atas piring makanmu
di atas ranjangmu, di atas mimpimu, dan di atas cintamu
duka adalah ahhhhhhh
duka adalah Lara
detik-detik dia melepaskan tangannya
berlari indah menuju kereta dan melaju lah itu kereta
begitu kencangnya dia, melaju ke tempat terakhir Ayahku yang ala dandanan pesta
dimana tua dan muda adalah sama
dimana cinta dan duka tinggal serumah
di mana hati dan nyawaku berada
di mana?
Entahlah, tanyakan pada Lara yang di surga.
September 2010
Duka adalah suka yang tertunda
Tapi aku ragukan itu, duka adalah bagian dari nyawa
Setiap titik hidup hanya anak kecil dari duka yang berkeluarga, beranak cucu dia
Jumlahkan saja suka yang kau hadirkan kala di dunia
Kalah jumlah dibanding duka yang masih kau pelihara
di sudut-sudut meja, di sudut-sudut celana
ibu dan ayahmu adalah pemeras duka, setiap hari mereka mengetuk di pintunya
memaksa, duka pun mengangkat tangannya
diberikan bagian hidupnya, lahir lah kau di dunia
Kau yang setiap hari menikmati dunia - rumah duka - di atas piring makanmu
di atas ranjangmu, di atas mimpimu, dan di atas cintamu
duka adalah ahhhhhhh
duka adalah Lara
detik-detik dia melepaskan tangannya
berlari indah menuju kereta dan melaju lah itu kereta
begitu kencangnya dia, melaju ke tempat terakhir Ayahku yang ala dandanan pesta
dimana tua dan muda adalah sama
dimana cinta dan duka tinggal serumah
di mana hati dan nyawaku berada
di mana?
Entahlah, tanyakan pada Lara yang di surga.
September 2010
Lara, Wanita Yang Kujemput Rindunya
Pagi ini sungguh berwarna semangatku
seratus persen sudah, antibodi naik, senyuman di wajahku sedang bergelantungan
di wajah tampanku, seperti monyet-monyet yang asyik bermain di ranting-ranting
pohon di jalan menuju Parapat itu. Pagi Lara, hari ini aku datang memenuhi
undanganmu, sayap-sayap pesawat sudah melintasi udara, di awan-awan, di atas
bumi Medan ini. Aku sudah di atas Selat Sunda, kelokan sungai-sungai sudah
mengecil dari sini, laut-laut luas pun seakan tak mampu kalahkan rinduku
padamu.
Lagu metal yang kudengarkan, pecah
ditelingaku yang paling dalam. Sejujurnya, aku tuliskan ini bukan untuk meniru
curhatannya si dalang J#ncuk Sudjiwotedjo dalam buku Jiwo J#ncuknya itu.
Kekasihnya tidak nyata, hanya ada di gorong-gorong otaknya. Kuakui dia adalah
panutanku, tapi sekali lagi dia menipu, kekasihnya khayalan saja itu. Tapi Lara,
kau tahu ini nyata, masih terasa saat kau kuajak berkeliling kota Siantar, di
dekat Parapat, di Panatapan, di kebun-kebun teh di Sidamanik itu.
Lara, rinduku tak tertahan sudah,
bagaimana dengan kau disana? Kau pasti telah cumbui foto-fotoku yang kukirim
via pesan elektronik itu, lain lagi yang kukirim langsung dari Blackberry
Messenger sembilan bulan yang lalu. Aku senang kau setia disana.
Lara, aku punya sesuatu yang ingin
kuutarakan segera, kuselatankan, kutimurkan, kubaratkan, semua penjuru kukunci,
agar pesan cintaku efektif melengket di hatimu…….
Di sampingku duduk manis di baja terbang ini sepasang insan sedang memadu
kasih. Mereka buat aku iri. Tuh, mereka saling menatap, berpegangan tangan,
saling bersentuhan wajahnya. Aku jadi ingat masa-masa dulu, saat kita masih
bersama, berduaan di senja, matahari berwarna jingga di Panatapan Parapat,
tubuh kita bersentuhan langsung dengan aroma purba Danau Toba.
Di lelaki tertidur sementara si wanita hanya memandangi awan-awan dari kaca
pesawat baja. Aku berniat menghampirinya dan bertanya tentang buku yang sejak
tadi dipeganginya, Jiwo J#ncuk judulnya, satu halaman pun tak sempat dibacanya.
Aku melihat matanya berkaca-kaca, mungkin dia rindu kekasih lamanya, kekasih
barunya hanya tahu tidur saja. Aku ingin bertegur sapa dengannya, tapi
tiba-tiba lelakinya terbangun dan menepis tanganku yang hendak menyalami
wanitanya, dia salah sangka. Tanganku terantuk ke bangku-bangku pesawat, lalu
dia ajak aku berkelahi. Aku ladeni dan riuh pun membahana sudah. Kupukul dia
dengan tinju kananku, tapi dia mengelak bahkan berhasil menendangku. Kami
saling menghantam, pramugari tak mampu melerai, seisi pesawat kacau. Tiba-tiba
bahu kananku ditepuk, aku pun terbangunlah. Ahh, aku hanya bermimpi ternyata.
Hai
Lara, ini hari pertama aku injakkan kaki di ibukota. Udaranya seperti biasa,
panas, polusi. Huuuuuuu…….
Lara,
setelah aku tiba di rumah kost-kostan yang luasnya hanya dua kali tiga meter
saja, kurebahkan badanku di tilam busa. Istirahat sejenak memulihkan tenaga
untuk acara kita nanti malam, kau yang mengundangku kan?
Ahhhhhhh……………
Waktu
menjelang maghrib, aku sudah lengkap dengan setelan ala anak muda mau
berkencan, bagaimana denganmu? Sudahkah kau kenakan gaun yang dahulu kau
ceritakan padaku? Gaun yang kau beli kala ada midnight sale gila-gilaan
di mall-mall di Jakarta selatan itu?
Ah,
aku sudah tak sabar menikmati makan malamku bersamamu. Baiklah Lara, aku
berangkat sekarang. Tunggu aku ya………………..
-Untuk
Lara yang tersenyum dan bangga melihatku dari surga-
Medan,
akhir 2012
Minggu, 05 Januari 2014
Suatu Malam
Kau datang sambil telanjang
Medan, November 2013
Menyergapku
Tersedu
kau dipelukan:
Aku
rindu kita yang dulu!
Kau
kucium perlahan
Tanpa
nafsu, tanpa cinta, tanpa apa-apa
Hanya
ciuman belaka
Semesta
menonton kita
Dia
takkan tahu bagaimana kita selama ini menjaga cinta
Hingga
cinta sekarang tiada
Hangus
bersama waktu
Dan
jarak yang jahat itu
Berjam-jam
lamanya kekasih
Kita
bercumbu
Semesta
tertawa
Kita
berpeluh
Semesta
tertunduk malu
Dia
membalik badan
Menutup
hidungnya
Aroma
purba cinta kita sudah berlarian entah kemana
Mari
akhiri malam ini
Hanya
ada aku dan kau, juga kedinginan
Katamu
sambil menutup kelambu.
Malam
itu aku kau kalahkan lagi.
Medan, November 2013
Prahara
Kau menangis
Badai
nan romansa
Cita-cita
seketika punah
Cinta
adalah alasanmu mengubur yang indah-indah
Mengapa
tak kau biarkan aku menangis menggantikanmu malam ini
Sebab
airmatamu sudah habis
Padahal
kekasihmu tak mau tahu
Dimana
adilmu?
Angin
yang badai
Cinta
yang lihai
Manusia
tak lebih dari jajahan-jajahan waktu
Sementara
Cinta adalah surga yang menunggu didamaikan ciuman, dan ciuman
Tidurlah
sekarang
Aku
menitip doa untukmu, manusia dengan hati dilema
Kau,
wanita yang kenalkan lagi padaku apa itu airmata
Aku
jatuh hati hari ini
Makanya
aku tuliskan puisi
Mencintaimu
dari pagi ke sore hari
Malam
ke pagi lagi
Satu
hari satu puisi
Aku
pernah bermimpi
Kau
kugendong menuju tidurmu
Tak
dinyana
Mataku
tutup dipeluk kantuk
Berdua
kita jatuh sama-sama
Sama-sama
jatuh cinta
Tumbuhlah
dalam doaku
Tertawalah
pada neraka
Surga
sudah kalah
Semalam
jatuh ke dunia
Dalam
wujud prahara!
Medan,
November 2013
Langganan:
Postingan (Atom)