Senin, 06 Januari 2014

Ketika Puisi Sudah Tak Bisa Menghampiri

Ketika puisi sudah tak bisa menghampiri
Kala dinding hatimu meninggi, dan tak lagi mampu kudaki
Aku menangis
Kau tak menggubris

Getir yang kukecup dari bibirmu
Biar tangisku memaniskannya
Sekeras apapun kau diam
Tak lebih keras dari isakku kemarin yang menyentuh kesombongan awan: ada hujan untukmu hari ini

Mengapa tak kau singkapkan saja kelabu yang sangkut di pelipismu?
Agar senyummu bisa kulihat
Agar malam ini aku selamat dari kesepian

Kekasih
Jika puisi tak lagi bisa menghampiri
Saat itu mentari sudah tak hangat lagi.


Medan, November 2013

Duka

Duka hanya lembaran tipis antara suka dan airmata
Duka adalah suka yang tertunda
Tapi aku ragukan itu, duka adalah bagian dari nyawa
Setiap titik hidup hanya anak kecil dari duka yang berkeluarga, beranak cucu dia
Jumlahkan saja suka yang kau hadirkan kala di dunia
Kalah jumlah dibanding duka yang masih kau pelihara
di sudut-sudut meja, di sudut-sudut celana
ibu dan ayahmu adalah pemeras duka, setiap hari mereka mengetuk di pintunya
memaksa, duka pun mengangkat tangannya
diberikan bagian hidupnya, lahir lah kau di dunia
Kau yang setiap hari menikmati dunia - rumah duka - di atas piring makanmu
di atas ranjangmu, di atas mimpimu, dan di atas cintamu
duka adalah ahhhhhhh
duka adalah Lara
detik-detik dia melepaskan tangannya
berlari indah menuju kereta dan melaju lah itu kereta
begitu kencangnya dia, melaju ke tempat terakhir Ayahku yang ala dandanan pesta
dimana tua dan muda adalah sama
dimana cinta dan duka tinggal serumah
di mana hati dan nyawaku berada
di mana?
Entahlah, tanyakan pada Lara yang di surga.


September 2010

Lara, Wanita Yang Kujemput Rindunya

          Pagi ini sungguh berwarna semangatku seratus persen sudah, antibodi naik, senyuman di wajahku sedang bergelantungan di wajah tampanku, seperti monyet-monyet yang asyik bermain di ranting-ranting pohon di jalan menuju Parapat itu. Pagi Lara, hari ini aku datang memenuhi undanganmu, sayap-sayap pesawat sudah melintasi udara, di awan-awan, di atas bumi Medan ini. Aku sudah di atas Selat Sunda, kelokan sungai-sungai sudah mengecil dari sini, laut-laut luas pun seakan tak mampu kalahkan rinduku padamu.
Lagu metal yang kudengarkan, pecah ditelingaku yang paling dalam. Sejujurnya, aku tuliskan ini bukan untuk meniru curhatannya si dalang J#ncuk Sudjiwotedjo dalam buku Jiwo J#ncuknya itu. Kekasihnya tidak nyata, hanya ada di gorong-gorong otaknya. Kuakui dia adalah panutanku, tapi sekali lagi dia menipu, kekasihnya khayalan saja itu. Tapi Lara, kau tahu ini nyata, masih terasa saat kau kuajak berkeliling kota Siantar, di dekat Parapat, di Panatapan, di kebun-kebun teh di Sidamanik itu.
Lara, rinduku tak tertahan sudah, bagaimana dengan kau disana? Kau pasti telah cumbui foto-fotoku yang kukirim via pesan elektronik itu, lain lagi yang kukirim langsung dari Blackberry Messenger sembilan bulan yang lalu. Aku senang kau setia disana.
Lara, aku punya sesuatu yang ingin kuutarakan segera, kuselatankan, kutimurkan, kubaratkan, semua penjuru kukunci, agar pesan cintaku efektif melengket di hatimu…….
            Di sampingku duduk manis di baja terbang ini sepasang insan sedang memadu kasih. Mereka buat aku iri. Tuh, mereka saling menatap, berpegangan tangan, saling bersentuhan wajahnya. Aku jadi ingat masa-masa dulu, saat kita masih bersama, berduaan di senja, matahari berwarna jingga di Panatapan Parapat, tubuh kita bersentuhan langsung dengan aroma purba Danau Toba.
            Di lelaki tertidur sementara si wanita hanya memandangi awan-awan dari kaca pesawat baja. Aku berniat menghampirinya dan bertanya tentang buku yang sejak tadi dipeganginya, Jiwo J#ncuk judulnya, satu halaman pun tak sempat dibacanya. Aku melihat matanya berkaca-kaca, mungkin dia rindu kekasih lamanya, kekasih barunya hanya tahu tidur saja. Aku ingin bertegur sapa dengannya, tapi tiba-tiba lelakinya terbangun dan menepis tanganku yang hendak menyalami wanitanya, dia salah sangka. Tanganku terantuk ke bangku-bangku pesawat, lalu dia ajak aku berkelahi. Aku ladeni dan riuh pun membahana sudah. Kupukul dia dengan tinju kananku, tapi dia mengelak bahkan berhasil menendangku. Kami saling menghantam, pramugari tak mampu melerai, seisi pesawat kacau. Tiba-tiba bahu kananku ditepuk, aku pun terbangunlah. Ahh, aku hanya bermimpi ternyata.
Hai Lara, ini hari pertama aku injakkan kaki di ibukota. Udaranya seperti biasa, panas, polusi. Huuuuuuu…….
Lara, setelah aku tiba di rumah kost-kostan yang luasnya hanya dua kali tiga meter saja, kurebahkan badanku di tilam busa. Istirahat sejenak memulihkan tenaga untuk acara kita nanti malam, kau yang mengundangku kan?
Ahhhhhhh……………
Waktu menjelang maghrib, aku sudah lengkap dengan setelan ala anak muda mau berkencan, bagaimana denganmu? Sudahkah kau kenakan gaun yang dahulu kau ceritakan padaku? Gaun yang kau beli kala ada midnight sale gila-gilaan di mall-mall di Jakarta selatan itu?
Ah, aku sudah tak sabar menikmati makan malamku bersamamu. Baiklah Lara, aku berangkat sekarang. Tunggu aku ya………………..



-Untuk Lara yang tersenyum dan bangga melihatku dari surga-

Medan, akhir 2012

Minggu, 05 Januari 2014

Suatu Malam

Kau datang sambil telanjang
Menyergapku
Tersedu kau dipelukan:
Aku rindu kita yang dulu!

Kau kucium perlahan
Tanpa nafsu, tanpa cinta, tanpa apa-apa
Hanya ciuman belaka
Semesta menonton kita
Dia takkan tahu bagaimana kita selama ini menjaga cinta
Hingga cinta sekarang tiada
Hangus bersama waktu
Dan jarak yang jahat itu

Berjam-jam lamanya kekasih
Kita bercumbu
Semesta tertawa
Kita berpeluh
Semesta tertunduk malu
Dia membalik badan
Menutup hidungnya
Aroma purba cinta kita sudah berlarian entah kemana

Mari akhiri malam ini
Hanya ada aku dan kau, juga kedinginan
Katamu sambil menutup kelambu.

Malam itu aku kau kalahkan lagi.


Medan, November 2013

Prahara

Kau menangis
Badai nan romansa
Cita-cita seketika punah
Cinta adalah alasanmu mengubur yang indah-indah

Mengapa tak kau biarkan aku menangis menggantikanmu malam ini
Sebab airmatamu sudah habis
Padahal kekasihmu tak mau tahu
Dimana adilmu?

Angin yang badai
Cinta yang lihai
Manusia tak lebih dari jajahan-jajahan waktu
Sementara Cinta adalah surga yang menunggu didamaikan ciuman, dan ciuman

Tidurlah sekarang
Aku menitip doa untukmu, manusia dengan hati dilema
Kau, wanita yang kenalkan lagi padaku apa itu airmata

Aku jatuh hati hari ini
Makanya aku tuliskan puisi
Mencintaimu dari pagi ke sore hari
Malam ke pagi lagi
Satu hari satu puisi

Aku pernah bermimpi
Kau kugendong menuju tidurmu
Tak dinyana
Mataku tutup dipeluk kantuk
Berdua kita jatuh sama-sama
Sama-sama jatuh cinta

Tumbuhlah dalam doaku
Tertawalah pada neraka
Surga sudah kalah
Semalam jatuh ke dunia
Dalam wujud prahara!

Medan,  November 2013