Senin, 06 Januari 2014

Lara, Wanita Yang Kujemput Rindunya

          Pagi ini sungguh berwarna semangatku seratus persen sudah, antibodi naik, senyuman di wajahku sedang bergelantungan di wajah tampanku, seperti monyet-monyet yang asyik bermain di ranting-ranting pohon di jalan menuju Parapat itu. Pagi Lara, hari ini aku datang memenuhi undanganmu, sayap-sayap pesawat sudah melintasi udara, di awan-awan, di atas bumi Medan ini. Aku sudah di atas Selat Sunda, kelokan sungai-sungai sudah mengecil dari sini, laut-laut luas pun seakan tak mampu kalahkan rinduku padamu.
Lagu metal yang kudengarkan, pecah ditelingaku yang paling dalam. Sejujurnya, aku tuliskan ini bukan untuk meniru curhatannya si dalang J#ncuk Sudjiwotedjo dalam buku Jiwo J#ncuknya itu. Kekasihnya tidak nyata, hanya ada di gorong-gorong otaknya. Kuakui dia adalah panutanku, tapi sekali lagi dia menipu, kekasihnya khayalan saja itu. Tapi Lara, kau tahu ini nyata, masih terasa saat kau kuajak berkeliling kota Siantar, di dekat Parapat, di Panatapan, di kebun-kebun teh di Sidamanik itu.
Lara, rinduku tak tertahan sudah, bagaimana dengan kau disana? Kau pasti telah cumbui foto-fotoku yang kukirim via pesan elektronik itu, lain lagi yang kukirim langsung dari Blackberry Messenger sembilan bulan yang lalu. Aku senang kau setia disana.
Lara, aku punya sesuatu yang ingin kuutarakan segera, kuselatankan, kutimurkan, kubaratkan, semua penjuru kukunci, agar pesan cintaku efektif melengket di hatimu…….
            Di sampingku duduk manis di baja terbang ini sepasang insan sedang memadu kasih. Mereka buat aku iri. Tuh, mereka saling menatap, berpegangan tangan, saling bersentuhan wajahnya. Aku jadi ingat masa-masa dulu, saat kita masih bersama, berduaan di senja, matahari berwarna jingga di Panatapan Parapat, tubuh kita bersentuhan langsung dengan aroma purba Danau Toba.
            Di lelaki tertidur sementara si wanita hanya memandangi awan-awan dari kaca pesawat baja. Aku berniat menghampirinya dan bertanya tentang buku yang sejak tadi dipeganginya, Jiwo J#ncuk judulnya, satu halaman pun tak sempat dibacanya. Aku melihat matanya berkaca-kaca, mungkin dia rindu kekasih lamanya, kekasih barunya hanya tahu tidur saja. Aku ingin bertegur sapa dengannya, tapi tiba-tiba lelakinya terbangun dan menepis tanganku yang hendak menyalami wanitanya, dia salah sangka. Tanganku terantuk ke bangku-bangku pesawat, lalu dia ajak aku berkelahi. Aku ladeni dan riuh pun membahana sudah. Kupukul dia dengan tinju kananku, tapi dia mengelak bahkan berhasil menendangku. Kami saling menghantam, pramugari tak mampu melerai, seisi pesawat kacau. Tiba-tiba bahu kananku ditepuk, aku pun terbangunlah. Ahh, aku hanya bermimpi ternyata.
Hai Lara, ini hari pertama aku injakkan kaki di ibukota. Udaranya seperti biasa, panas, polusi. Huuuuuuu…….
Lara, setelah aku tiba di rumah kost-kostan yang luasnya hanya dua kali tiga meter saja, kurebahkan badanku di tilam busa. Istirahat sejenak memulihkan tenaga untuk acara kita nanti malam, kau yang mengundangku kan?
Ahhhhhhh……………
Waktu menjelang maghrib, aku sudah lengkap dengan setelan ala anak muda mau berkencan, bagaimana denganmu? Sudahkah kau kenakan gaun yang dahulu kau ceritakan padaku? Gaun yang kau beli kala ada midnight sale gila-gilaan di mall-mall di Jakarta selatan itu?
Ah, aku sudah tak sabar menikmati makan malamku bersamamu. Baiklah Lara, aku berangkat sekarang. Tunggu aku ya………………..



-Untuk Lara yang tersenyum dan bangga melihatku dari surga-

Medan, akhir 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar