Pagi ini sungguh berwarna semangatku
seratus persen sudah, antibodi naik, senyuman di wajahku sedang bergelantungan
di wajah tampanku, seperti monyet-monyet yang asyik bermain di ranting-ranting
pohon di jalan menuju Parapat itu. Pagi Lara, hari ini aku datang memenuhi
undanganmu, sayap-sayap pesawat sudah melintasi udara, di awan-awan, di atas
bumi Medan ini. Aku sudah di atas Selat Sunda, kelokan sungai-sungai sudah
mengecil dari sini, laut-laut luas pun seakan tak mampu kalahkan rinduku
padamu.
Lagu metal yang kudengarkan, pecah
ditelingaku yang paling dalam. Sejujurnya, aku tuliskan ini bukan untuk meniru
curhatannya si dalang J#ncuk Sudjiwotedjo dalam buku Jiwo J#ncuknya itu.
Kekasihnya tidak nyata, hanya ada di gorong-gorong otaknya. Kuakui dia adalah
panutanku, tapi sekali lagi dia menipu, kekasihnya khayalan saja itu. Tapi Lara,
kau tahu ini nyata, masih terasa saat kau kuajak berkeliling kota Siantar, di
dekat Parapat, di Panatapan, di kebun-kebun teh di Sidamanik itu.
Lara, rinduku tak tertahan sudah,
bagaimana dengan kau disana? Kau pasti telah cumbui foto-fotoku yang kukirim
via pesan elektronik itu, lain lagi yang kukirim langsung dari Blackberry
Messenger sembilan bulan yang lalu. Aku senang kau setia disana.
Lara, aku punya sesuatu yang ingin
kuutarakan segera, kuselatankan, kutimurkan, kubaratkan, semua penjuru kukunci,
agar pesan cintaku efektif melengket di hatimu…….
Di sampingku duduk manis di baja terbang ini sepasang insan sedang memadu
kasih. Mereka buat aku iri. Tuh, mereka saling menatap, berpegangan tangan,
saling bersentuhan wajahnya. Aku jadi ingat masa-masa dulu, saat kita masih
bersama, berduaan di senja, matahari berwarna jingga di Panatapan Parapat,
tubuh kita bersentuhan langsung dengan aroma purba Danau Toba.
Di lelaki tertidur sementara si wanita hanya memandangi awan-awan dari kaca
pesawat baja. Aku berniat menghampirinya dan bertanya tentang buku yang sejak
tadi dipeganginya, Jiwo J#ncuk judulnya, satu halaman pun tak sempat dibacanya.
Aku melihat matanya berkaca-kaca, mungkin dia rindu kekasih lamanya, kekasih
barunya hanya tahu tidur saja. Aku ingin bertegur sapa dengannya, tapi
tiba-tiba lelakinya terbangun dan menepis tanganku yang hendak menyalami
wanitanya, dia salah sangka. Tanganku terantuk ke bangku-bangku pesawat, lalu
dia ajak aku berkelahi. Aku ladeni dan riuh pun membahana sudah. Kupukul dia
dengan tinju kananku, tapi dia mengelak bahkan berhasil menendangku. Kami
saling menghantam, pramugari tak mampu melerai, seisi pesawat kacau. Tiba-tiba
bahu kananku ditepuk, aku pun terbangunlah. Ahh, aku hanya bermimpi ternyata.
Hai
Lara, ini hari pertama aku injakkan kaki di ibukota. Udaranya seperti biasa,
panas, polusi. Huuuuuuu…….
Lara,
setelah aku tiba di rumah kost-kostan yang luasnya hanya dua kali tiga meter
saja, kurebahkan badanku di tilam busa. Istirahat sejenak memulihkan tenaga
untuk acara kita nanti malam, kau yang mengundangku kan?
Ahhhhhhh……………
Waktu
menjelang maghrib, aku sudah lengkap dengan setelan ala anak muda mau
berkencan, bagaimana denganmu? Sudahkah kau kenakan gaun yang dahulu kau
ceritakan padaku? Gaun yang kau beli kala ada midnight sale gila-gilaan
di mall-mall di Jakarta selatan itu?
Ah,
aku sudah tak sabar menikmati makan malamku bersamamu. Baiklah Lara, aku
berangkat sekarang. Tunggu aku ya………………..
-Untuk
Lara yang tersenyum dan bangga melihatku dari surga-
Medan,
akhir 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar