Jumat, 17 April 2015

Lilir

Seperti decur
berlarian di lapang hatimu
ada yang sesak
ada yang ingin tumpah, sebentar lagi...

kakimu gontai, manusia
cita-cita limbung seketika
kau tak biasa dengan hidup beriak
kau kalah
Tumpas!

Doamu tak sampai
dosamu mencerkau
kau bahagia
tawamu lumrah dengan cinta yang pura-pura

Menangis kau, cengeng!
kau harapkan iba: ampuni aku, aku mengaku salah.
Jadilah kau kutu--kutu doa!

Mungkin ini kerama, katamu
padahal kau sudah lama memihak agama

Imanmu lindap tak lama
tawamu berubah tangis: konon neraka dekorasi bersusah-susah, menantimu dengan pesta yang meriah

Entah apa yang pantas memalut najismu yang sulur: lihatlah bumban di kepalamu,
otakmu yang kotor dibebatnya, sebaik-baik riasanmu!

Kau adalah penyesalan: kau sudah tahu tapi tak kau lakukan, kini mulutmu membura sesal!

Sampu datang
bebanmu menambun
kau redam
menghitam perlahan
leleh, tapi tak seperti sebuah lilin: kau habis bukan untuk jadi penerang.





-Karawang, 18 April 2015-






Senin, 05 Mei 2014

Yesus

Siapa Kau sebenarnya?

Dia sahabat terbaikku, seru pendosa itu.



Jakarta, 3 Mei 2014

Kamis, 27 Maret 2014

Habis

Semua sudah dituliskan
tinggal kesedihan
yang masih tenang menumpang di matamu, yang hampir mati

Tinggallah sebentar lagi
aku belum puas denganmu
pintamu pada kesedihan
di sore itu
waktu kau hampir hilang dari kehidupan

Menjelang gelap
matamu tutup
kau habis
namun kesedihan tak ikut mati
dia pindah ke mataku
yang semenjak pagi betah
menikmati kesedihan di matamu, kasih.



Pematangsiantar, September 2013

Diceritakan Kembali oleh Layar Telepon Genggamku

aku melihatmu semalam
dengan senyum yang sama
masih merah seperti darah
tapi matamu tak sebening dulu
sedikit sembab dan mendung

kau dalam kesedihan sepertinya
kenapa?

kuharap itu bukan dia
kekasihmu  yang sekarang, kepedihan

seandainya melupakan itu mudah
aku tak mungkin seperti sekarang :
masih mencintai segala kekuranganmu dengan berlebih-lebihan...

Pagi ini
aku menikmati senyummu lagi, senyum yang takkan mungkin aku lupa rasanya
dari layar telepon genggamku
yang hampir habis dayanya.



Medan, Oktober 2013



Akhirnya...

ya...
kita sadar

sekarang memang waktu yang tertunggu :
aku akan menarik langkahku, kau mendekat padanya, dia menjauh...

seharusnya
kita sudah merelakan :
aku merelakanmu, kau merelakannya

kita adalah manusia
yang takdirnya mau tak mau ditumpangi :
hidup adalah masing-masing, tapi cinta tidak.
Ini masalah!

semua hanya akan indah
bila kita saling melepaskan masa lalu, masa bodoh...

Pantasnya kita sebut apa
aku  mencintaimu, kau mencintainya, dia mencintai kekasihnya?

ah cinta...
kadang hanya untuk ditertawakan saja.



Medan, Februari 2014



Rabu, 26 Maret 2014

Titik-titik

Kantuk, kulihat dipahat di matamu
kau berusaha melupakan
tapi sampai pada yang tak berdaya : cinta lama masih terindah...

Kau, jalanmu menanti menemukan cerita yang tak akan layu
setetes dan setetes
: Cinta baru akhirnya datang dan waktu muncul sebagai penyembuh!

Mengukir dunia yang langitnya lebih indah dari yang sudah-sudah
belajarlah dari duka
belajarlah dari airmata.



Medan, Januari 2013