Seperti decur
berlarian di lapang hatimu
ada yang sesak
ada yang ingin tumpah, sebentar lagi...
kakimu gontai, manusia
cita-cita limbung seketika
kau tak biasa dengan hidup beriak
kau kalah
Tumpas!
Doamu tak sampai
dosamu mencerkau
kau bahagia
tawamu lumrah dengan cinta yang pura-pura
Menangis kau, cengeng!
kau harapkan iba: ampuni aku, aku mengaku salah.
Jadilah kau kutu--kutu doa!
Mungkin ini kerama, katamu
padahal kau sudah lama memihak agama
Imanmu lindap tak lama
tawamu berubah tangis: konon neraka dekorasi bersusah-susah, menantimu dengan pesta yang meriah
Entah apa yang pantas memalut najismu yang sulur: lihatlah bumban di kepalamu,
otakmu yang kotor dibebatnya, sebaik-baik riasanmu!
Kau adalah penyesalan: kau sudah tahu tapi tak kau lakukan, kini mulutmu membura sesal!
Sampu datang
bebanmu menambun
kau redam
menghitam perlahan
leleh, tapi tak seperti sebuah lilin: kau habis bukan untuk jadi penerang.
-Karawang, 18 April 2015-