Kau memantra pelukku:
Dewasalah demi air mata
Lepaskan pelukmu pada luka yang lalu
Kenyataan memang sakit
Tapi jangan kau sakit-sakitkan
Kau
paksa aku berdoa, tanpa pura-pura:
Semoga masih ada pagi seperti kemarin
Hanya ada kita berdua, dan dingin.
Lalu
karma datang
Darah
kehilangan hangat, panaskan dengan tersesat:
Ini hanya sebentar
Esok tak ada lagi
Matahari sudah terbakar!
Malam
tetap pekat dan sendiri
Kita
lupa untuk menjadi sadar
Ada
genggam yang marah:
Bukan kita yang salah
Hanya saja cinta tak datang pada masanya
Lalu
kecup menjelma
Berikan
lagi padaku apa yang kau sebut hidup itu
Bertualang
kita sampai jauh
Tak
ada kata pulang
Rumah
ada dimana-mana:
Rumah adalah saat kita senantiasa berdua.Medan, November 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar