Sore ini sunyi kembali
seperti
hujan
yang
tak diinginkan datangnya pada masa panen
Sunyi,
menyelinap dia
tidak
mengetuk
tumpukan
cinta yang kulipat rapi di bangku-bangku taman, memburuk
ternyata
dia tak menyalinnya
lupa
dia
Kujalani
lagu-lagu
nada-nada
minor dari biola
irama-irama
mamayati
jalur-jalur
dengan
bodohnya tiduri dosa
Dengan apa lagi aku ungkapkan rindu?
Kujalani
kota pluralis
diantara
istiqlal dan katedral
kata-kata
dan cinta
diaduk
dalam adonan duka
banyak
rindu untukmu wanita
Tak
mau aku siakan waktu
tak hanya
nikmati gemulai detik
aku
ingin bersetubuh dengannya
kutangkap
tangan sang waktu
menjala
cinta yang mulai berkelabat
kala
nafsuku mulai berbahaya
aku
menulislah
puisi
syair,
apapun itu
hanya
secercah
benua
tak cukup luas
bila
kubandingkan dengan rinduku yang mulai menua
Senja
kota tua
kalah
indah dengan senja biasanya
senja
itu indah
tapi
Jakarta mengusirnya
manusianya
hidup sendiri-sendiri saja
tak
terurus dan mulai kurus
kasihan
senja
hanya
aku yang peduli disana
sore
itu
kala
istiqlal membuka puasa
di
katedral ibadah minggu mereka
Berkeliling
dan bersedih
tertunduk
dan cengeng memelukku
Senja
tiada – pergi dia
aku menangis
Aku gila karena rindu!
Seandainya aku bisa menyelinap
di gambar-gambar yang membentuk mimpimu
itu
Malaikat
bosan temaniku berdoa untukmu
berdoa
di ujung senja
dimana
suka dan duka berciuman mesra
Karena
rindulah maka aku membenci waktu
waktu
tertawa kala aku menanti
senang
dia melihatku terseduh lirih
teriak
hatiku, sedari dulu
Aku
butuh dirimu!
-Agustus
2012-
-Kutuliskan kala sedih kudampingi
berkeliling kota, minggu sore di Jakarta, di bulan puasa-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar