Kamis, 14 Maret 2013

Syair Diantara Katedral dan Istiqlal


Sore ini sunyi kembali
seperti hujan
yang tak diinginkan datangnya pada masa panen

Sunyi, menyelinap dia
tidak mengetuk
tumpukan cinta yang kulipat rapi di bangku-bangku taman, memburuk
ternyata dia tak menyalinnya
lupa dia

Kujalani lagu-lagu
nada-nada minor dari biola
irama-irama
mamayati jalur-jalur
dengan bodohnya tiduri dosa

Dengan apa lagi aku ungkapkan rindu?

Kujalani kota pluralis
diantara istiqlal dan katedral
kata-kata dan cinta
diaduk dalam adonan duka
banyak rindu untukmu wanita

Tak mau aku siakan waktu
tak hanya nikmati gemulai detik
aku ingin bersetubuh dengannya
kutangkap tangan sang waktu
menjala cinta yang mulai berkelabat
kala nafsuku mulai berbahaya
aku menulislah
puisi
syair, apapun itu
hanya secercah
benua tak cukup luas
bila kubandingkan dengan rinduku yang mulai menua

Senja kota tua
kalah indah dengan senja biasanya
senja itu indah
tapi Jakarta mengusirnya
manusianya hidup sendiri-sendiri saja
tak terurus dan mulai kurus
kasihan senja
hanya aku yang peduli disana
sore itu
kala istiqlal membuka puasa
di katedral ibadah minggu mereka

Berkeliling dan bersedih
tertunduk dan cengeng memelukku
Senja tiada – pergi dia
aku menangis

Aku gila karena rindu!
Seandainya aku bisa menyelinap
di gambar-gambar yang membentuk mimpimu itu

Malaikat bosan temaniku berdoa untukmu
berdoa di ujung senja
dimana suka dan duka berciuman mesra

Karena rindulah  maka aku membenci waktu
waktu tertawa kala aku menanti
senang dia melihatku terseduh lirih
teriak hatiku, sedari dulu
Aku butuh dirimu!



-Agustus 2012-



-Kutuliskan kala sedih kudampingi berkeliling kota, minggu sore di Jakarta, di bulan puasa-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar